
JEMBER, SMNNews.co.id – Bupati Jember, Gus Fawait mengedukasi pelajar serta pengajar SMPN 1, SMPN 3 dan SMPN 4 Tanggul terkait dampak bahaya dari adanya pernikahan dini. Hal tersebut Gus Fawait sampaikan saat acara program Bupati berkunjung ke desa dan kelurahan (Bunga Desaku) di halaman SMPN 1 Tanggul.
“Nikah bukan hanya masalah sah atau tidak sah. Tapi juga terkait kesiapan kedua mempelai dalam mengarungi rumah tangga,” tegasnya.
Selanjutnya Gus Fawait memaparkan dampak bahaya pernikahan dini melalui Plt Kepala RSD Balung, Dr dr Nyoman Soemita Sp OT Spein. “Apa bahayanya jika ada anak SMP melakukan pernikahan dini,” tuturnya kepada ratusan pelajar SMP.
Gus Fawait langsung menunjuk Plt RSD dr Soebandi Jember, Dr dr Nyoman Soemita Sp OT, Spine (K) untuk menjelaskannya.
“Pernikahan dini adalah pernikahan saat usianya dibawah 21 tahun. Sementara, di usia di bawah 21 tahun, posisi otak bagian depan belum tumbuh secara maksimal, artinya kurang mampu mengontrol diri, emosi, keuangan dan perencanaan yang baik,” tegas dr Nyoman Semita.
Nyoman Soemita juga menyimpulkan bahwa pernikahan dini kurang mampu mempersiapkan diri untuk berkeluarga.
“Sering kali ada pertengkaran dalam rumah tangga dan mengakibatkan perceraian,” ungkapnya.
“Ibu hamil, bersalin dan bayi dalam kandungan berpotensi mengalami kematian. Pernikahan dini meningkatkan Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Bayi (AKB), dan stunting (gangguan kecerdasan akibat tidak selarasnya tinggi badan dengan berat badan bayi),” terang dr Nyoman.
Gus Fawait juga menyampaikan bahwa AKI, AKB dan stunting di kabupaten Jember cukup tinggi.
“Stunting itu kondisi tubuhnya lebih buruk dari bayi yang mengalami gizi buruk,” ucapnya.
“Saya titip kepada adik – adik SMP, agar setelah lulus sekolah maka lanjutkan ke SMA, MA atau SMK. Setelah lulus SMA lalu melanjutkan kuliah,” tuturnya.
Gus Fawait juga mengatakan bahwa ia asli kelahiran dusun Pondok Jeruk desa Wringinagung kecamatan Jombang, Jember.
“Lulus SMA Saya melanjutkan kuliah S1 di UNAIR Surabaya, S2 di UGM Yogyakarta dan S3 di UNAIR Surabaya,” tegasnya.
“Walaupun anak desa atau pelosok, asal memiliki ilmu, maka Allah SWT akan memuliakannya. Saya tiga kali nyalon anggota DPRD provinsi lolos, nyalon bupati Alhamdulillah lolos. Belum ada sejarahnya anak santri dari pelosok yang lolos jadi bupati Jember,” ungkapnya.
Politisi partai Gerindra ini juga memaparkan bahwa saat ini kabupaten Jember menyiapkan beasiswa bagi banyak anak – anak Jember yang akan kuliah di kampus manapun.
“Jangan takut masalah biaya kuliah,” terangnya.
“Saya datang kesini bukan ada niat kampanye, karena adik – adik masih belum memiliki hak pilih. Saya hanya ingin melihat anak – anak Jember sekolah yang tinggi, sebab tidak ada rumusnya jika negara Indonesia kalah sama negara Singapura atau Korea Selatan,” pungkasnya. (adv)
Reporter: Suliyadi.
Editor: Kundari PS.
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

