
BLITAR, SMNNews.co.id – Rapat Penguatan Komitmen Inovasi Daerah bertempat di Ruang Garuda Dinas Pendidikan, yang dilaksanakan 15 Agustus 2025. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kabupaten Blitar terus berkomitmen meningkatkan kualitas riset, inovasi, dan diseminasi pengetahuan sebagai fondasi kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
Kepala Bappedalitbang Kabupaten Blitar, Rully mengatakan, melalui tujuh inovasi strategis BIG RICE, E-Repository Litbang, DISANDING, JURNAL PRADAH, BIG ACTOR, MONAS INDAH, dan BARISTA, Bappedalitbang mendorong transformasi layanan litbang yang modern, transparan, dan kolaboratif.
1. BIG RICE (Blitar Regency Research and Innovation Center)
BIG RICE (Blitar Regency Research and Innovation Center) merupakan pusat riset dan inovasi daerah berbasis teknologi informasi yang dikelola Bappedalitbang Kabupaten Blitar. Aplikasi ini berfungsi sebagai media sentralisasi data kelitbangan, meliputi kajian, penelitian, dan inovasi, yang dapat diakses secara daring oleh perangkat daerah maupun publik. Pengembangannya dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan basis data kelitbangan yang terintegrasi, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2016.
Sejak diluncurkan pada 2020 dengan nama BIG ICE, inovasi ini telah mengalami beberapa tahap transformasi hingga menjadi BIG RICE V.3 di tahun 2024, yang kini dilengkapi fitur baru untuk mendukung, persiapan pelaporan inovasi daerah kepada Kementerian Dalam Negeri.
Versi terbaru BIG RICE menghadirkan berbagai penyempurnaan, seperti penambahan Menu Jendela Inovasi, Menu Inovasi Daerah, serta fitur self-assessment untuk menghitung kematangan inovasi daerah sesuai indikator Indeks Inovasi Daerah (IID). Selain itu, BIG RICE juga memfasilitasi diseminasi hasil kelitbangan, sosialisasi Lomba Krenotek Kabupaten Blitar, dan pengelolaan profil kelitbangan secara lebih interaktif. Dengan tampilan dashboard yang lebih informatif dan sistem entry data yang telah diperbarui, platform ini tidak hanya mempercepat proses inventarisasi data, tetapi juga meningkatkan efisiensi koordinasi antarperangkat daerah.
“Keberadaan BIG RICE diharapkan mampu memperkuat peran litbang sebagai basis perumusan kebijakan berbasis data, sekaligus menjadi etalase inovasi daerah yang dapat diakses kapan pun melalui https://bigrice.blitarkab.go.id/,” ujarnya.
2. E-Repository Litbang
E-Repository Litbang merupakan inovasi digital yang diinisiasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Blitar sebagai wadah penyimpanan dan diseminasi hasil penelitian serta pengembangan daerah secara daring. Platform ini dikembangkan untuk menjawab permasalahan ketersebaran dan sulitnya akses data hasil penelitian yang sebelumnya tersimpan terpisah di masing-masing perangkat daerah. Dengan mengintegrasikan pengelolaan data dalam satu sistem berbasis web di alamat https://repositorylitbangblitar.com/, E-Repository Litbang menyediakan menu Beranda, Direktori Litbang, inetgrasi ke Jurnal Pradah, dan Informasi, yang memungkinkan publik, peneliti, maupun perangkat daerah mengakses, serta memanfaatkan hasil-hasil kelitbangan secara lebih transparan, terstruktur, dan efisien.
Melalui E-Repository Litbang, pemerintah daerah dapat mempermudah inventarisasi usulan maupun hasil penelitian, memastikan keberlanjutan pengarsipan, serta memperluas akses bagi masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Sistem ini dilengkapi pengaturan hak akses bagi administrator, user perangkat daerah, dan pembaca umum, sehingga keamanan dan keteraturan data tetap terjaga. Selain meningkatkan transparansi dan integritas penelitian, platform ini juga mendorong kolaborasi lintas sektor, memperkuat visibilitas hasil kelitbangan, dan mendukung pengambilan kebijakan berbasis data di Kabupaten Blitar.
3. DISANDING (Diseminasi Hasil Kelitbangan Dalam Jaringan)
DISANDING (Diseminasi Hasil Kelitbangan Dalam Jaringan) merupakan inovasi yang dikembangkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Blitar untuk memperluas jangkauan publikasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan. Inovasi ini memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram sebagai saluran utama penyebaran informasi, sehingga hasil kelitbangan dapat diakses oleh masyarakat luas secara cepat, interaktif, dan menarik. Melalui format konten yang kreatif seperti infografis, video singkat, dan posting narasi, DISANDING tidak hanya mempermudah publik memperoleh informasi, tetapi juga meningkatkan keterlibatan audiens terhadap isu-isu strategis pembangunan daerah.
Kehadiran DISANDING menjawab tantangan keterbatasan media publikasi tradisional yang sering kali kurang efisien dalam menjangkau khalayak umum. Dengan strategi distribusi digital, setiap hasil kelitbangan dapat disampaikan secara real-time dan dikemas secara visual agar mudah dipahami berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, inovasi ini turut memperkuat transparansi dan akuntabilitas pemerintah daerah dalam menyebarkan informasi pembangunan, sekaligus menjadi sarana promosi bagi hasil-hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan demikian, DISANDING menjadi jembatan komunikasi efektif antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam ekosistem inovasi berbasis teknologi informasi.
4. JURNAL PRADAH (Jurnal Perspektif Pembangunan Daerah)
JURNAL PRADAH (Jurnal Perspektif Pembangunan Daerah) merupakan inovasi digital Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Blitar yang berfungsi sebagai media diseminasi dan publikasi hasil penelitian serta pengembangan daerah. Diterbitkan secara berkala dua kali setahun, pada bulan Juni dan Desember, Jurnal Pradah menyajikan naskah penelitian asli yang berfokus pada isu-isu strategis pembangunan daerah, seperti otonomi daerah, birokrasi, tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, inovasi, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, hingga kebijakan fiskal daerah. Dengan format akses terbuka, publikasi ini menjadi sarana penting untuk memperluas jangkauan informasi ilmiah kepada masyarakat, akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan media, sekaligus memperkuat reputasi akademik Kabupaten Blitar di tingkat nasional maupun internasional.
Pengelolaan Jurnal Pradah memanfaatkan platform daring yang dapat diakses melalui https://jurnalpradah.com/, sehingga seluruh proses mulai dari pengajuan artikel, penyuntingan, hingga publikasi dapat berlangsung lebih efektif dan efisien. Pengembangan website pengelolaan jurnal dilakukan untuk meningkatkan interaktivitas, memperbaiki kemudahan akses, memperjelas manajemen pengguna, serta memastikan pemeliharaan sistem berjalan optimal. Melalui pengelolaan digital ini, Jurnal Pradah tidak hanya menjadi wadah berbagi temuan, pemikiran, dan inovasi di berbagai disiplin ilmu, tetapi juga mendorong kolaborasi, pertukaran ide, dan pemanfaatan hasil penelitian sebagai referensi kebijakan publik maupun pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
5. BIG ACTOR (Blitar Regency Innovation Communication Forum)
BIG ACTOR (Blitar Regency Innovation Communication Forum) adalah forum komunikasi yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Blitar untuk memperkuat koordinasi, sinergitas, dan efektivitas pelaporan inovasi daerah. Forum ini menjadi wadah bagi penanggung jawab, inovator, dan operator inovasi dari setiap perangkat daerah untuk berinteraksi langsung dengan fasilitator di tingkat kabupaten. Melalui forum ini, informasi dan arahan terkait pemenuhan bukti dukung serta teknis peningkatan kualitas dan kuantitas inovasi daerah dapat tersampaikan secara cepat dan merata. Keanggotaan BIG ACTOR terdiri dari pejabat penanggung jawab pelaporan inovasi setara eselon III dan operator aplikasi Indeks Inovasi Daerah, yang tergabung dalam grup komunikasi daring untuk mempermudah koordinasi.
Pembentukan BIG ACTOR dilatarbelakangi oleh tantangan rendahnya capaian peringkat Indeks Inovasi Daerah Kabupaten Blitar akibat kurangnya pemahaman dan komunikasi dalam pelaporan inovasi. Melalui forum ini, koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi lebih
intensif, semangat berinovasi di kalangan ASN dan masyarakat terdorong, serta kualitas pelaporan inovasi meningkat. Hasilnya, Kabupaten Blitar memiliki satu forum resmi yang mewadahi kolaborasi lintas perangkat daerah dalam upaya meningkatkan daya saing inovasi di tingkat nasional.
6. MONAS INDAH
MONAS INDAH (Monitoring, Pembinaan, dan Pengawasan Inovasi Daerah) adalah inovasi tata kelola pemerintahan yang diinisiasi oleh Bappedalitbang Kabupaten Blitar sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas, kematangan, dan dampak implementasi inovasi daerah. Lahir dari kebutuhan akan mekanisme pembinaan dan evaluasi yang terstruktur, MONAS INDAH berfungsi sebagai sarana terpadu untuk memonitor, membina, dan mengawasi setiap tahapan inovasi daerah—mulai dari inisiasi, uji coba, hingga penerapan. Inovasi ini dilatarbelakangi oleh dinamika perkembangan jumlah inovasi daerah yang meningkat signifikan, namun belum diikuti dengan kenaikan skor maupun peringkat Indeks Inovasi Daerah (IID) secara nasional. Melalui kegiatan seperti Klinik Inovasi, Desk Inovasi, sosialisasi, monitoring-evaluasi berbasis kemitraan dengan perguruan tinggi, hingga pemanfaatan platform digital, MONAS INDAH memastikan setiap inovasi terpantau dan mendapat umpan balik konstruktif untuk perbaikan berkelanjutan.
Implementasi MONAS INDAH membawa manfaat nyata, mulai dari identifikasi permasalahan penerapan inovasi secara dini, tersusunnya rekomendasi solusi berbasis evaluasi, hingga peningkatan kematangan skor Satuan Inovasi Daerah. Hasilnya, pemerintah daerah memiliki gambaran kinerja inovasi secara periodik, mengetahui kelemahan yang perlu dibenahi, serta memperoleh masukan kebijakan yang tepat sasaran. Selain mendorong persaingan positif antarunit penyelenggara inovasi, MONAS INDAH juga memperkuat budaya perbaikan berkelanjutan dalam inovasi daerah. Dengan dukungan penuh Bappedalitbang Kabupaten Blitar, inovasi ini menjadi instrumen penting dalam memastikan bahwa setiap gagasan inovatif tidak hanya terealisasi, tetapi juga memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
7. BARISTA (Blitar Research and Innovation Smart Talk)
BARISTA (Blitar Research and Innovation Smart Talk) merupakan inovasi yang digagas Bappedalitbang Kabupaten Blitar sebagai forum diskusi rutin untuk memperkuat komitmen perangkat daerah, unit khusus, dan instansi terkait dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas inovasi daerah. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik antar-perangkat daerah, sehingga mendorong kolaborasi dan sinergi dalam pengembangan inovasi. BARISTA dikemas dalam bentuk bincang semi-formal yang dilaksanakan setiap bulan, sehingga peserta lebih leluasa mengungkapkan permasalahan yang dihadapi sekaligus memperoleh masukan dari pengalaman inovasi di unit kerja lain.
Tidak hanya berlangsung secara tatap muka, hasil diskusi BARISTA juga dirangkum dalam bentuk infografis atau kutipan penting yang disebarluaskan melalui inovasi DISANDING (Diseminasi Hasil Kelitbangan Dalam Jaringan) kepada seluruh anggota BIG ACTOR (Blitar Regency Innovation Communication Forum). Dengan langkah ini, wawasan yang dihasilkan BARISTA dapat menjangkau seluruh pemangku kepentingan inovasi di lingkup Pemerintah Kabupaten Blitar. Seluruh materi dan rekaman BARISTA juga tersimpan secara terintegrasi dan dapat diakses publik melalui tautan resmi, sehingga transparansi dan akuntabilitas dapat terjaga sekaligus memperkuat budaya inovasi di Kabupaten Blitar.
“Dengan ketujuh inovasi tersebut, Bappedalitbang Kabupaten Blitar memperkuat perannya sebagai motor penggerak riset dan inovasi, memastikan setiap kebijakan yang dirumuskan berbasis pada data dan pengetahuan yang kredibel, sekaligus membangun ekosistem inovasi yang partisipatif dan berkelanjutan,” pungkas Rully. (*)
Reporter: Bonaji.
Editor: Kundari PS.
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

