
KEDIRI, SMNNews.co.id – Berawal dari kegemaran mengoleksi batik, Sri Ayuni (57), seorang warga Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Kediri, Kota Kediri, sukses mengembangkan usaha batik eco print yang ramah lingkungan.
Dengan memanfaatkan daun-daun alami sebagai pewarna dan motif, karya-karyanya kini tak hanya diminati di Indonesia, tetapi juga berhasil menembus pasar mancanegara.
Sri Ayuni telah menekuni teknik eco print, yakni sebuah metode pewarnaan kain yang memanfaatkan pigmen alami dari tumbuhan sejak tahun 2016.
Ia memanfaatkan daun-daunan yang banyak ditemukan di halaman rumahnya untuk menghasilkan motif yang unik dan ramah lingkungan.
Ketekunan dan inovasi yang dilakukan Sri Ayuni membuahkan hasil signifikan. Dalam sebulan, ia mampu memproduksi hingga 25 potong kain. Setelah diolah menjadi beragam busana seperti kaus, daster, outer, dan tas, total produk eco print yang berhasil ia jual mencapai lebih dari 30 buah setiap bulannya ke berbagai wilayah di Nusantara. Bahkan, capaian usahanya kini meluas hingga kancah internasional.
“Pemasarannya bahkan sudah sampai Filipina dan Singapura, dalam bentuk desain pakaian,” ungkap Sri Ayuni saat ditemui di rumahnya pada Ahad (9/11/2025).
Ia menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan budaya.
“Kami sengaja menekuni batik eco print karena ramah lingkungan dan sekaligus melestarikan warisan budaya batik,” ujarnya.
Batik eco print memanfaatkan aneka tumbuhan alami sebagai bahan baku motif. Di Kediri, perajin umumnya menggunakan daun jati, kalpataru, jarak, lanang, kosmos, tabebuya, dan bunga airmata pengantin.
Proses pembuatannya relatif praktis, diawali dengan membersihkan dan merendam kain. Daun kemudian ditata sesuai motif, lalu kain ditutup, dibungkus plastik, digulung, dan diikat. Tahap selanjutnya adalah pengukusan selama dua jam. Setelah proses pengukusan, kain dijemur selama empat hingga lima hari hingga benar-benar kering dan siap dipasarkan.
Produk batik eco print buatan Sri Ayuni dijual dengan harga yang bervariasi. “Harga batik eco print mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 600.000, tergantung jenis kain dan motif,” terangnya.
Melalui usaha batik eco print ini, Sri Ayuni membuktikan bahwa kreativitas dapat sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan sekaligus melestarikan kekayaan budaya batik Indonesia. (*)
Reporter: Susiani.
Editor: Kundari PS.
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

