
JEMBER, SMNNews.co.id – Program Home Care Pemerintah Kabupaten Jember memasuki bulan kedua pelaksanaan. Program yang menyasar masyarakat rentan tersebut terus dievaluasi untuk memastikan pelayanan kesehatan benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan.
Bupati Jember, Gus Fawait melalui Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jember, Muhammad Zamroni, mengatakan agenda Home Care kali ini dilakukan di dua titik, yakni Kecamatan Jelbuk dan Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti.
Kegiatan tersebut digelar bersamaan dengan agenda Bupati Jember Gus Fawait meresmikan jembatan gantung di Kecamatan Jelbuk. Di sela agenda peresmian, Bupati juga melakukan kunjungan Home Care kepada warga sasaran, terutama lansia tunggal dan kelompok masyarakat rentan.
“Hari ini kunjungan Gus terkait peresmian jembatan gantung. Di sela-sela itu Gus melakukan Home Care di dua titik, di Jelbuk hari ini, kemudian setelah sholat Jumat di Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti,” ungkap Zamroni, di dusun Rejeb desa Sukowiryo kecamatan Jelbuk, Jumat (28/08/2026).
Menurutnya, pelaksanaan Home Care tidak mungkin hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. Pemkab Jember membangun pola kerja lintas organisasi perangkat daerah (OPD), dengan camat dan kepala puskesmas menjadi penanggung jawab di wilayah masing-masing.
Bahkan, jajaran kepala OPD ikut dilibatkan dalam monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan program di lapangan.
“Kalau Home Care dilaksanakan hanya oleh Dinas Kesehatan sangat tidak memungkinkan. Untuk wilayah, penanggung jawabnya camat dan kepala puskesmas. Semua kepala OPD pengampu juga melakukan monitoring evaluasi setiap hari sesuai titik yang dikunjungi,” jelasnya.
Pola monitoring tersebut diterapkan di 31 kecamatan di Kabupaten Jember. Dengan sistem tersebut, Pemkab berharap setiap kunjungan tidak berhenti pada pelayanan kesehatan, tetapi juga menghasilkan evaluasi mengenai kondisi sosial warga yang menjadi sasaran.
Zamroni mengakui program yang masih relatif baru tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, khususnya berkaitan dengan akurasi dan pemutakhiran data penerima manfaat.
Data awal sasaran, seperti lansia tunggal dan penyandang disabilitas, salah satunya bersumber dari Dinas Sosial. Karena itu, menurutnya, pembenahan data menjadi bagian penting dari evaluasi.
“Karena ini masih pertama, kita tetap melakukan pembenahan sekaligus mengevaluasi. Data lansia tunggal dan disabilitas sumbernya dari Dinas Sosial,” katanya.
Home Care Ditarget Tekan Kemiskinan
Lebih jauh, Zamroni menjelaskan bahwa Home Care bukan semata-mata program pelayanan kesehatan. Program tersebut dirancang sebagai salah satu instrumen Pemkab Jember untuk membantu menurunkan angka kemiskinan.
Menurutnya, persoalan akses kesehatan menjadi salah satu faktor yang dapat memperberat beban masyarakat miskin. Setelah program Universal Health Coverage (UHC) diluncurkan, persoalan berikutnya adalah memastikan masyarakat yang sakit benar-benar mampu mengakses layanan kesehatan.
“Kalau masyarakat miskin sakit dan ingin ke puskesmas, tetap membutuhkan biaya untuk berangkat. Berangkat dari realitas tersebut, akhirnya Gus meluncurkan program Home Care,” ungkap Zamroni.
Melalui program tersebut, tenaga medis diharapkan dapat mendatangi langsung keluarga atau masyarakat kurang mampu yang membutuhkan pelayanan.
“Intinya dokter akan datang secara langsung kepada keluarga atau masyarakat yang kurang mampu,” imbuhnya.
Memasuki sekitar satu bulan pelaksanaan, Zamroni menyebut sudah terlihat perkembangan positif meskipun dampaknya terhadap angka kemiskinan belum dapat dihitung secara signifikan.
“Selama satu bulan ini ada progres, meskipun belum bisa dipersentase secara signifikan,” pungkasnya.
Pemkab Jember kini menempatkan evaluasi, pemutakhiran data, serta penguatan koordinasi lintas OPD sebagai kunci agar program Home Care tidak sekadar menjadi layanan kunjungan kesehatan, tetapi benar-benar mampu menjangkau kelompok masyarakat paling rentan. (adv)
Reporter: Suliyadi.
Editor: Kundari PS.
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

