
NGAWI, SMNNews.co.id – Tak seperti masalah lain dalam pembangunan bangsa, isu tentang kesehatan mata, belum mendapat perhatian serius.
Namun, langkah inspiratif dilakukan dalam inisiatif kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Ngawi dan Yayasan Paramitra Indonesia dengan program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE).
Program ini menjadi salah satu ikhtiar nyata untuk menghadirkan layanan kesehatan mata yang inklusif dan efektif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penyandang disabilitas.
Direktur Yayasan Paramitra, Aisyah Sugianti, mengemukakan perjalanan Paramitra di Ngawi dimulai saat diluncurkan program I-SEE pada Juni 2024.
“Tujuannya jelas yakni memastikan setiap warga negara, tanpa terkecuali, memiliki akses yang sama terhadap layanan pencegahan, deteksi dini, dan penanganan gangguan penglihatan,” kata Aisyah.
Koordinasi intensif dilakukan Paramitra bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi, diikuti dengan serangkaian pelatihan komprehensif bagi tenaga kesehatan di berbagai Puskesmas bahkan rumah sakit.
Pelatihan ini tidak hanya mengasah kemampuan teknis medis, tetapi juga menekankan aspek penting Disability Inclusive Development (DID) atau etika berkomunikasi dan melayani pasien disabilitas dengan ramah.
Program I-SEE menjadi gerakan nyata dengan fitur-fitur unggulan yang dirancang untuk membawa perubahan signifikan, diantaranya :
1. Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan (Nakes)
Fitur utama program ini adalah fokusnya pada penguatan sumber daya manusia. Ratusan tenaga kesehatan di Ngawi, dari Puskesmas hingga rumah sakit, mendapatkan pelatihan intensif.
Para nakes ini juga dibekali dengan pedoman untuk meningkatkan layanan yang ramah pada disabiltas. Pelatihan bagi nakes dalam pelayanan disabilitas ini diadakan di dua rumah sakit di Ngawi yakni RSUD dr Soeroto dan RS Widodo.

Arizky Perdana Kusuma, yang menjadi narasumber dalam pelatihan itu membeberkan seringkali tenaga kesehatan memakai paradigma berpikir yang belum tepat dalam melayani disabilitas.
“Hal ini perlu penyesuaian sehingga perlu diadakan pelatihan dan menyamakan persepsi agar difable juga bisa terlayani dengan baik dan nyaman,” ungkap Arizky.
2. Pembentukan Desa Sehat Mata Inklusi
Ini adalah fitur inovatif yang membawa pelayanan langsung ke jantung masyarakat. Sebanyak 10 desa di Ngawi telah resmi dikukuhkan sebagai Desa Sehat Mata Inklusi.
Di desa-desa ini, sistem layanan kesehatan mata terintegrasi secara aktif, dengan kader kesehatan lokal yang berperan sebagai garda terdepan dalam skrining dan rujukan, menjadikan layanan lebih mudah diakses oleh semua warga, tanpa terkecuali.
3. Keterlibatan Aktif Organisasi Disabilitas
Program I-SEE sangat menekankan aspek inklusivitas. Empat organisasi disabilitas tingkat desa telah dikukuhkan dan diberdayakan. Mereka menjadi mitra penting dalam menyuarakan kebutuhan kesehatan mata kaum disabilitas, memastikan hambatan akses teratasi, dan hak-hak mereka terpenuhi.
4. Edukasi dan Pelatihan di Tingkat Sekolah
Menyadari pentingnya deteksi dini pada usia sekolah, program ini juga melibatkan para guru. Pelatihan diberikan kepada guru-guru di wilayah pedesaan untuk mengidentifikasi potensi masalah penglihatan pada murid-murid mereka dan mendorong keterlibatan aktif dalam pencegahan gangguan penglihatan.
5. Penguatan Kebijakan dan Sistem Informasi Kesehatan
Program ini juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk menyusun kebijakan daerah yang komprehensif terkait kesehatan mata.
Selain itu, sistem informasi layanan kesehatan mata juga sedang dikembangkan untuk memastikan data yang akurat dan perencanaan program yang lebih efektif di masa mendatang. (*)
Reporter: Arie.
Editor: Kundari PS.
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

