
NGAWI, SMNNews – Museum Trinil, yang terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, menjadi salah satu sasaran kajian koleksi oleh Museum dan Cagar Budaya Unit Sangiran.
Kajian storage di Museum Trinil merupakan kaki pertama dan bertujuan melindungi koleksi yang dimiliki.
Tim kajian storage yang turun ke Trinil, ada enam orang dan bekerja Senin-Jumat (27-31 Agustus 2025)
Para pengkaji berlatar arkeolog dengan bidang edukator maupun kurator. Objek yang dikaji adalah koleksi museum yang tidak dipamerkan atau dipajang di ruang pamer.
“Gedungnya sudah cukup representatif tetapi butuh evealuasi pada manajemen SDM, koleksi dan sebagainya,” ungkap Reza Andrea, Ketua Tim pada kajian storage di Museum Trinil.
Penataan koleksi ini perlu dilakukan agar dapat menjaga, melindungi serta memberikan akses lebih baik terhadap penelusuran koleksi yang ada di Museum Trinil.

Saat ini, koleksi Museum Trinil termasuk belim terlindungi dengan baik. Sebagian besar koleksi hanya dibungkus plastik bahkan tak sedikit yang dibiarkan dalam keadaan terbuka begitu saja bertengger di rak.
“Penyimpanan yang kurang baik tentu bisa memperngaruhi koleksi. Bisa terpapar jamur, dihinggapi serangga atau terkontaminasi zat yang terbawa udara. Meskipun saat ini di museum ini terhitung masih aman,” ujarnya.
Koleksi Museum Trinil, hampir semuanya berasal dari tulang hewan seperti fosil gajah purba atau kerang. Fosil sapiens juga ada di koleksi museum ini dengan perkiraan usia sekitar 40 rihu tahun.
“Beberapa hal perlu dibenahi dalam kajian ini, misalnya penyimpanan kolseksi sampai kesesuaian daftar dan susunan koleksi. Jadi, misalkan dalam daftar katalog ada koleksi gading gajah, saat dicari nomor dan rak penyimpanannya seharusnya sesuai,” ungkap Reza.
Adanya evaluasi terhadap storage musem oleh tim pengkaji ini, diharapkan dapat membuat pemerintah daerah dapat menindaklanjuti pelaksanaannya sesuai rekomendasi yang diberikan. (*)
Reporter: Arie.
Editor: Kundari PS.
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

