Marak Bunuh Diri, Perlu Pendidikan Agama Lebih Baik

Pemeriksaan TKP kasus bunuh diri di Desa Rejomulyo, Kecamatan Karangjati, Jumat malam (2/8/2019)
Ngawi, suaramedianasional.co.id – Bunuh diri bahkan yang menimpa kaum manula, sudah wajib menjadi perhatian. Apalagi, menurut beberapa kalangan, hal ini menandakan kurangnya penerapan pendidikan agama dan moral di tengah masyarakat.
Kasus yang baru-baru ini terjadi adalah seorang nenek bernama Sayem (60 thn) warga Dusun Sberan, Desa Rejomulyo, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi. Dia nekat gantung diri pada Jumat malam (2/8/2019) di rumah milik tetangganya bernama Bisri hingga menggemparkan warga kampung.
Penemuan jasad Sayem yang tewas tergantung justru oleh suaminya sendiri bernama Tukiran, setelah lama dia mencari. “Ternyata sang istri tewas tergantung di pohon mangga di belakang rumah tetangganya sendiri,” ungkap Ipda Sapto Margono, Paur Humas Polres Ngawi.
Diduga, Nenek Sayem mengalami depresi hingga membuatnya nekat. Setelah diperiksa polisi dan tim medis, keluarga mengikhlaskan kepergian nenek Sayem dan memakamkannya.
Namun demikian, kasus bunuh diri yang disebabkan tekanan batin maupun ekonomi, ttap harus menjadi perhatian di Ngawi. “Alasan sakit menahun, depresi atau ekonomi, tentunya tak boleh menjadi pembenar tindakan bunuh diri. Apalagi semua agama melarang hal itu,” ungkap Agus M Fathoni, penggiat Langgar Sawo Ijo (LSI) di Ngawi.
Pemerintah juga harus instropeksi dengan meningkatkan pemahaman agama dan moral serta menjalankan program yang menunjang pencegahan bunuh diri yakni peningkatan ekonomi warga miskin, peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta bantuan pengobatan untuk mereka yang memiliki gangguan depresi atau mental.
Selain itu, Toni, sapaan akrabnya juga berpesan agar media massa tidak latah hanya menyebarkan berita tentang korban bunuh diri, atau menceritakan detail kronologinya, tanpa disertai edukasi pada khalayak. “Sebab, jangan sampai bunuh diri menjadi inspirasi bagi yang lainnya, akan berbahaya pula bagi kehidupan masyarakat terutama generasi penerus,” ujarnya.
Kasus bunuh diri di Ngawi, hampir setiap bulan selalu terjadi dengan pelaku berbagai kalangan. Pemicunya sebagian besar karena tidak tahan didera sakit, kekurangan ekonomi dan depresi. Kebanyakan pelaku bunuh diri juga berasal dari keluarga kurang mampu. (and/Ari)