HomeLIFESTYLEMelihat Dunia dengan Setara, Menelisik Praktik Baik Layanan Kesehatan Mata Inklusif di...

Melihat Dunia dengan Setara, Menelisik Praktik Baik Layanan Kesehatan Mata Inklusif di Kabupaten Ngawi

Sosialisasi pentingnya menjaga kesehatan mata yang dilakukan oleh yayasan Paramitra dan tenaga kesehatan di Ngawi, Jawa Timur. (Foto: Arie/smnnews.co.id)

NGAWI, SMNNews.co.id – Mata adalah jendela dunia. Namun bagi sebagian orang, jendela itu mungkin tampak buram atau bahkan tertutup akibat gangguan penglihatan yang sebenarnya sering bisa dicegah atau diatasi.

Bagaimana bila tuna netra masih pula menerima perlakuan diskriminatif, diposisikan sebagai pihak yang harus dikasihani atau kemampuannya yang berbeda justru dianggap suatu hal yang tidak wajar?

Tentu hal itu menyakitkan, apalagi bila ditunjukkan oleh tenaga kesehatan. Padahal, itu belum menyoal pada akses terhadap layanan kesehatan mata yang masih sering terhambat.

Tantangan untuk dapat memberikan “praktik baik” dalam menyelenggarakan layanan kesehatan mata ini, juga terjadi di Kabupaten Ngawi, daerah ujung terbarat Jawa Timur.

Disabilitas netra Arizky Perdana Kusuma sering terlibat dalam kampanye layanan kesehatan mata inklusif. (Foto: Arie/smnnews.co.id)

Sebagaimana penuturan Arizky Perdana Kusuma, seorang disabilitas netra, yang kini getol menyuarakan pentingnya layanan kesehatan yang ramah diffable dan inklusif.

“Sebenarnya terjadi di banyak daerah, jadi beberapa perbaikan layanan sudah ada, namun masih banyak memandang disabilitas sebagai pihak yang harus dikasihani atau masih terjebak dalam pola pandang charity,” ujar Arizky, sapaan akrabnya.

Di Ngawi, Arizky melakukan sosialisasi pentingnya nakes mengetahui dan memahami layanan kesehatan yang dibutuhkan disabilitas. Dia melakukan hal itu diantaranya di Puskesmas Karangjati, RSU dr Soeroto dan RS Widodo Ngawi.

Pandangan inklusif berarti memahami bahwa pihak seperti Arizky ingin diperlakukan seperti orang lain walau memiliki kemampuan berbeda (difable atau different ability).

“Makanya, dalam peningkatan layanan kesehatan yang ramah disabilitas, penting dilakukan pelibatan mereka, supaya ada saling kesepahaman,” ungkap Arizky.

Menurut pria asal Probolinggo ini, bila infrastruktur belum memadai untuk diffable, setidaknya dadi segi sumber daya manusianya dulu bisa diperbaiki. Hal ini bisa tercermin dari layanan yang diberikan, sikap tenaga kesehatan dan keramahannya.

“Setelah itu bisa bicara infrastruktur, bagaimana aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk disabilitas,” tambahnya.

Di tengah banyaknya tantangan, sejumlah inisiatif dan program telah menunjukkan “praktik baik” dalam menyelenggarakan layanan kesehatan mata yang benar-benar inklusif.

Adalah Program I-SEE atau Inclusive System for Effective Eye Care dari Yayasan Paramitra, yang turut berperan memberikan praktik-prakti baik tersebut.

Yayasan ini berfokus pada kesehatan mata yang inklusif, terutama di beberapa kabupaten di Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Magetan, Tuban, dan Probolinggo.

“Program I-SEE turut memastikan setiap individu, tanpa terkecuali, mendapatkan haknya dengan optimal. Layanan kesehatan mata inklusif lebih dari sekadar menyediakan fasilitas fisik. Prinsip utamanya adalah kesetaraan partisipasi dan kesempatan,” jelas Asiah Sugianti, Direktur Yayasan Paramitra.

Salah satu tindakan yang dilakukan adalah pendekatan holistik, memastikan layanan kesehatan mata dapat diakses, relevan, dan responsif terhadap kebutuhan unik dan spesifik semua orang. Termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, sensorik. atau intelektual.

Praktik baik layanan kesehatan mata inklusif di Indonesia, seperti yang terlihat dalam program I-SEE di Kabupaten Ngawi, biasanya mencakup beberapa fitur kunci yaitu :

Deteksi Dini Berbasis Komunitas: Program yang melibatkan kader kesehatan desa, guru UKS, dan komunitas lokal menjadi ujung tombak dalam skrining awal gangguan penglihatan.

Para kader ini dilatih untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal masalah mata dan merujuk warga ke fasilitas kesehatan primer (FKTP) atau puskesmas.

Akurasi deteksi oleh kader yang terlatih terbukti tinggi dan sangat bermanfaat bagi warga di daerah terpencil.

Kader kesehatan jadi ujung tombak skrining awal gangguan penglihatan, seperti terjadi di Lapangan Dero, Kecamatan Bringin, (8/11/2025). (Foto: Arie/smnnews.co.id)

Kemitraan Lintas Sektor
Keberhasilan program ini bertumpu pada kolaborasi yang kuat antara dinas kesehatan, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan (puskesmas dan rumah sakit), organisasi penyandang disabilitas (seperti PERTUNI), dan organisasi non-pemerintah. Kl

Kemitraan ini memastikan adanya payung hukum melalui kebijakan desa/daerah serta dukungan sumber daya yang berkelanjutan.

Aksesibilitas Fisik dan Informasi:

Fasilitas kesehatan didorong untuk ramah disabilitas, dengan akses kursi roda, toilet yang dapat diakses, dan petunjuk arah yang jelas.

Selain itu, informasi kesehatan disampaikan dalam format yang mudah dipahami, termasuk penggunaan bahasa isyarat atau materi dalam huruf braille jika diperlukan.

Bantuan Finansial dan Kacamata Gratis

Bantuan itu membantu mengatasi kendala ekonomi, menyediakan bantuan kacamata gratis bagi siswa atau warga kurang mampu.

Penguatan Organisasi Disabilitas:

Memberdayakan organisasi penyandang disabilitas lokal tidak hanya memberikan mereka legalitas, tetapi juga menjadikan mereka mitra strategis dalam advokasi dan penyampaian layanan kepada anggotanya sendiri.

Dampak Nyata di Lapangan
Melalui pendekatan ini, inisiatif seperti “Desa Sehat Mata Inklusif” telah dideklarasikan di berbagai desa di Kabupaten Mageyn, Madiun dan Ngawi.

Beberapa dampak positifnya adalah :

A. Warga mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi mata mereka dan merasa terbantu dengan adanya pemeriksaan di posyandu atau sekolah.

B. Tingkat pemahaman masyarakat tentang pentingnya kesehatan mata meningkat, dan stigma terkait gangguan penglihatan perlahan berkurang.

C. Penyebab utama kebutaan seperti katarak dapat dideteksi lebih dini, memungkinkan intervensi medis yang cepat dan tepat.

Muara dari layanan kesehatan mata inklusif bukan sekadar program amal, melainkan investasi dalam sumber daya manusia unggul dan pembangunan bangsa yang lebih setara.

Pada akhirnya, akan sangat penting untuk mereplikasi praktik baik ini. Bahkan, visi Indonesia untuk membuat warganya dapat melihat dunia dengan jelas, terlepas dari kondisi fisik mereka, akan semakin terwujud. (*)

Editor: Kundari Pri Susanti

Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

ARTIKEL LAINYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA LAINYA

Tiga Dugaan Keracunan MBG di Ngawi Terjadi dalam Tiga Bulan, SPPG Terima Sanksi

NGAWI, SMNNews.co.id - Tiga kasus keracunan diduga dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ngawi terjadi di Ngawi dalam tiga bulan berturut-turut. Akibatnya, sampai...

Kasus Penemuan Bayi di Ringinanom Blitar Sudah Terungkap, Ternyata Ulah Dua Pelajar

KOTA BLITAR, SMNNews.co.id - Kasus penemuan bayi di teras rumah warga Dusun Sukorejo, Desa Ringinanom, Kecamatan Udanawu, akhirnya terungkap. Polsek Udanawu mengamankan dua remaja...

Wabup Pasaman Serahkan BLT Dana Desa

PASAMAN, SMNNews.co.id - Salah satu bentuk perhatian Pemerintah Daerah Pasaman dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Wabup Parulian secara langsung turut menyerahkan Bantuan Langsung Tunai...