HomeBERITAPanti Dhuafa di Jetis, Pernah Minus Rp45 Juta Saat Pandemi, Tetap Setia...

Panti Dhuafa di Jetis, Pernah Minus Rp45 Juta Saat Pandemi, Tetap Setia Rawat ODGJ

Sebagian pasien di Panti Dhuafa Lansia Ngasinan, Jetis, Ponorogo. (foto by: Tri Mariyani)

PONOROGO, SMNNews.co.id – Arifin, sesosok pemuda berpostur sedang, kalem saja menelan roti dalam sekali suapan. Sejurus kemudian dia beranjak pergi, bergabung dengan ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), yang dirawat di Panti Dhuafa Lansia, Dusun Ngasinan, Jetis, Ponorogo.

Panti yang jadi tempat tinggal Arifin itu, menampung 116 orang, dan didominasi ODGJ. Panti ini didirikan Rama Philips, sejak Maret 2016 lalu. Sebelum pantia di Ngasinan ini, Rama sudah mendirikan panti di Desa Turi, juga di Kecamatan Jetis. Bedanya, panti di Desa Turi tidak menampung ODGJ namun dikhususkan merawat lansia.

Maria Eka Fransiska, salah satu pengasuh panti ini menyatakan, ODGJ yang dirawat sebenarnya usia produktif, meski ada pula yang 80 tahun. Asal daerah paisen beragam, dari sekitar Jawa Timur, Jakarta hingga Sumatera.

“Setelah dirawat dan sembuh, meski bisa ditanyai mengenai daerahnya namun banyak yang lupa alamat atau enggan pulang. Kami tetap rawat mereka itu sampai meninggal,” ungkap Maria Eka.

Penampakan pintu gerbang panti dhuafa di Jetis, Ponorogo. (foto by Tri. Mariyani)

Panti ini juga menerima titipan ODGJ untuk dirawat. Kepercayaan untuk merawat ODGJ ini dimungkinkan karena tak mengandalkan obat, namun dengan sentuhan kasih dan diisi kegiatan positif.

Maria mengisahkan pengalaman panti ketika merawat remaja 17 tahun yang mengalami gangguan kejiwaan akibat kecanduan game online. Jika saat masuk, pasien mengamuk ketika dijauhkan dari gawai, ternyata bisa sembuh dalam waktu perawatan hanya seminggu.

Pola sentuhan kasih ini menjadikan obat bukan sebuah ketergantungan, meskipun tetap tersedia. Pasokan obat untuk panti ini berasal dari puskesmas dan RSUD Dr. Harjono Ponorogo.

“Kami juga dipantau pihak rumah sakit, setiap harinya ada dua perawat datang ke panti,” kata Eka.

Sehari-hari ODGJ yang diasuh, oleh para pengurus diajak senam, mengaji, memelihara hewan serta berbagai pekerjaan lain. Mereka yang sudah diaggap normal, bahkan boleh dipakai sebagai tukang cuci oleh masyarakat sekitarnya, meski dengan pengawasan.

“Intinya mereka harus sibuk, dikaryakan supaya tak ada waktu untuk melamun, dengan berkegiatan, memorinya juga diharapkan bisa ingat kembali,” kata Maria Eka.

Menangani ratusan ODGJ tentu membutuhkan dana tak sedikit. Setap hari, pengasuh di panti membutuhkan 30 Kg beras dan uang belanja sekitar Rp300 ribu.

Selama ini dana untuk panti berasal dari donasi, bantuan pemerintah yakni bako dari Dinas Sosial Ponorogo yang diberikan biasanya setahun sekali dan uang dari keluarga pasien bila ada. Tak sekali dua, pihak panti menjual barang demi memenuhi operasional mereka.

“Marak-maraknya pandemi tahun 2020 dan 2021 lalu, benar-benar membuat kami sulit. Pernah juga minus sampai Rp45 juta,” ungkap Maria.

Ada 12 pengurus di panti ini. Mereka juga terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial setempat. Panti Dhuafa Lansia di Ngasinan, Jetis ini, harus mendapatkan rekomendasi dari Dinsos bila akan merawat ODGJ sehingga tak bisa memungut begitu saja ODGJ dari jalanan. (penulis: Tri Mariyani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

BERITA LAINYA

Pangdam V/Brawijaya Bersama Ketua Persit KCK Lakukan Kunjungan Kerja ke Kodim 0811 Tuban.

TUBAN, SMNNews.co.id - Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto, beserta Ketua Persit Kartika Chandra Kirana PD V/Brawijaya, Evy Nurchahyanto, melakukan kunjungan kerja ke Kodim 0811/Tuban,...