Pemkab dan Polres Dorong Petani Ngawi Aplikasikan TBS untuk Basmi Tikus

Wabup Ngawi beserta Kapolres dan Dandim, mendorong petani gunakan tehnik TBS dalam pembasmian tikus sawah.

NGAWI, SMNNews.co.id – Dinas Pertanian, gencar mengajak petani meninggalkan pembasmian tikus dengan memasang jebakan beraliran listrik. Petani dikenalkan sistem bubu perangkap atau Trap Barrier System (TBS).

Pemkab Ngawi bersama Polres dan Kodim, mencanangkan gerakan pengendalian tikus tanpa jebakan listrik, serentak di seluruh Ngawi, Rabu (14/01/2021).

Dipusatkan di Desa Jatirejo, Kecamatan Kasreman, gerakan tersebut juga ditandai dengan pemasangan pagupon burung hantu sebagai predator alami tikus.

“Pemkab terus berupaya mendorong gerakan pengendalian tikus tanpa jebakan listrik sebab hal itu beresiko membahayakan jiwa manusia dan ada konsekuensi hukumnya,” ujar Ony Anwar, Wakil Bupati Ngawi.

Ony Anwar yang juga Bupati Ngawi terpilih hasil Pilkada 2020 ini, meminta agar petani konsisten menerapkan sistem TBS untuk pembasmian tikus sawah.

TBS juga dapat diterapkan di daerah endemik tikus dengan tingkat populasi tinggi. Bila diterapkan konsisten, tehnik TBS juga efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak, sejak awal tanam sampai panen. Caranya, dengan memasang pagar plastik sedemikian rupa di sawah, agar tikus terjebak di perangkap.

“Ada pengalaman, penerapan tehnik TBS ini bisa menangkap sampai ratusan ekor dalam semalam. Selain itu, kami mengajak pemerintah desa membuat perdes pelarangan perburuan predator alami tikus,” tegas Ony.

Kapolres Ngawi, AKBP I Wayan Winaya, membenarkan, resiko memasang jebakan listrik untuk tikus dapat membahayakan jiwa manusia. Polisi tetap bertindak tegas untuk hal tersebut.

“Selama Desember 2020 sudah berjatuhan korban tewas, ada juga pemasangnya yang kami proses secara hukum. Jadi para petani kami harap tak lagi memakai jebakan beraliran listrik untuk membasmi tikus,” ungkap Wayan.

Ngawi sendiri dikenal sebagai daerah dengan produktifitas padi yang tinggi. Pengendalian hama tikus dan ketersediaan pupuk, merupakan dua keluhan utama petani di Ngawi, yang belum teratasi secara tuntas sampai saat ini. (ari)