“Semar Mbangun Kayangan” Filosofi Program TMMD Reg 105 Trenggalek

hiburan yang diselenggarakan TMMD trenggalek

Trenggalek, suaramedianasional.co.id – banyak menilai bahwa program TMMD Reg 105 Kodim Trenggalek sangat tepat sasaran dan waktu yang dibutuhkan warga. Musim kemarau ini, sangat cocok untuk pembangunana, selain akses jalan juga belum parah, kemungkinan adanya longsor dan ekerusakan juga kecil.

Namun bukan itu yang utama, terpenting adalah hasil yang dicapai dan dikerjakan TNI sangat emngena dan bisa memotivasi warga untuk lebih emlanjutkan pembangunan dengan sinsrgitas yang ada. Keberlanjutan emnjadi kunci utama hasil yang dicapai.

Diibaratkan oleh Dalang Lukiot dalam wayang, ternyata didalam tubuh Semar tersebut bersemayam Sanghyang Wenang yang memberikan petunjuk wejangan hidup dan ilmu yang sangat berarti bagi para Pandawa,dan memerintahkan untuk bertapa selama sepuluh hari kepada keempat saudara tersebut.

Adapun Putra Pandawa bersama Petruk, Bagong, dan Gareng yang menjaga,diganggu makhluk halus Maling sukma menjadi saling bunuh,namun segera diatasi oleh Semar dan diberikan mantra untuk menghadapi segala kejahatan yang datang.

Kresna yang menyamar menjadi Raksasa sebesar bukit, ternyata tidak mampu menghadapi mantra tersebut; demikian pula Arjuna yang menyamar menjadi harimau yang sangat besar menjadi lemas dan tertangkap oleh para Putra Pandawa serta meminta ampun kepada Semar. Kresna pun mendapat marah dari Semar karena sebagai raja tidak waspada dan melakukan tindakan tanpa memeriksa terlebih dahulu duduk perkaranya.

Bahkan, Semar marah kepada Betara Guru sehingga berangkat ke Suralaya, serta mengobrak-abrik Suralaya. Tidak ada satupun senjata yang mampu melumpuhkan Semar; sehingga Betara Guru melarikan diri ke Karang Kabuyutan; namun kemarahan Semar tidak dapat dihindari, dimanapun Batara Guru bersembunyi selalu ditemukan oleh Semar, hingga Betara Guru meminta Perlindungan para Pandawa dan meminta ampun kepada Semar atas segala kesalahannya.

“Setelah kemarahan Semar mereda dan mengampuni Betara Guru maka kembalilah Betara Guru ke Suralaya. Sedikit cuplikan wayang kulit diamlam itu,” jelas Lukito, Sabtu (27/7).(pendim)