Tengok Korban Banjir Ngawi Khofifah Janji Perbanyak Sudetan Bengawan

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa saat mengunjungi salah satu posko pengungsi korban banjir di Ngawi, Kamis (07/3)
Ngawi, suaremedianasional.co.id – Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawangsa mengaku prihatin dengan banyaknya sawah siap panen yang harus terendam akibat banjir. Selain itu, petani yang sudah dicover asuransi dapat mengajukan klaim. hal ini dikatakan Khofifah saat hadir di salah satu posko pengungsi di Desa Jenangan Kecamatan Kwadungan, Kamis (07/3).
Desa ini termasuk salah satu yang terkena dampak parah karena banjir yang melanda 20 desa pada 6 kecamatan di Ngawi, selama dua hari ini. Kedatangan Khofifah selain menyerahkan bantuan pangan dan obat juga memberikan pesan agar para pengungsi tetap sabar dan tabah. “Ini ujian, semoga menjadikan lebih sabar. Bagi anak sekolah kalau besok sudah memungkinkan ya sebaiknya masuk sekolah saja,” pesannya.
Gubernur Jatim ini juga sempat menengok dapur umum di posko tersebut. Ibu-ibu yang memasak di dapur umum ini mengaku memasak untuk sekitar 300 orang sekali makan.
Khofifah pun menyebut, Pemprov akan memperbanyak sudetan atas Bengawan Solo. “Saat ini baru ada di Sedayu Gresik dan Bojonegoro, kita butuh tiga lagi. Jadi silakan daerah menyediakan titiknya,” kata mantan Menteri Sosial ini.
Banjir kali ini menimpa 15 kabupaten di Jatim dan Khofifah juga memberikan lampu hijau untuk membuat embung di daerah. Ini karena ada 416 desa di seluruh Jatim yang rentan banjir saat  penghujan dan rawan kekeringan saat kemarau. Hal inilah yang akan dicoba diatasi dengan membangun embung. “Daerah harus sharing dengan provinsi terutama dalam pemeliharaannya,” ujarnya.
Khofifah kembali mengajak masyarakat untuk lebih peduli lingkungan serta melakukan biopori agar tidak hanya perkerasan yang diperbanyak. Jumlah rumah terendam banjir di Ngawi 1.490 KK dan sesuai laporan Bupati Ngawi, Budi Sulistyono, sudah dibentuk beberapa posko serta tiga dapur umum.
Walau titik pengungsi jelas bertempat di lokasi kering dan lebih aman, namun rupanya banyak warga tetap menolak dievakuasi dan memilih bertahan di rumah masing-masing. Beberapa warga masih enggan dievakuasi karena merasa sayang dengan ternak dan rumah mereka. Namun pihak Pemkab Ngawi terus melakukan pemantauan dan distribusi logistik ke tempat warga yang terjebak sembari menghimbau agar mereka bersedia mengungsi ke lokasi aman. (ari)