
PASURUAN, SMNNews.co.id – RSUD Bangil resmi menghadirkan dua inovasi layanan kesehatan berbasis digital terintegrasi. Langkah ini diambil untuk memotong jalur birokrasi, menghapus praktik calo, sekaligus mengurai penumpukan antrean pasien di rumah sakit.
Digitalisasi ini diterapkan pada sistem pengadaan darah darurat melalui program TRANSJIMAT (Transporter Cepat Jiwa Selamat), serta layanan pengantaran obat untuk pasien rawat jalan lewat program FAST DRUG POS. Langkah progresif ini menjadi jawaban nyata atas banyaknya keluhan masyarakat terkait rumitnya prosedur administrasi medis konvensional.
Plt Direktur RSUD Bangil, dr. Tri Dinar Herturini, menegaskan bahwa ketersediaan darah dan obat-obatan merupakan aspek krusial yang menyangkut keselamatan pasien, sehingga prosesnya harus berjalan cepat dan aman.
“Kami merombak total sistem pelayanan manual terdahulu dan mengintegrasikan seluruh prosesnya ke dalam jaringan teknologi informasi rumah sakit,” ujar dr. Tri Dinar, Jumat (3/7/26).
Inovasi TRANSJIMAT memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-RS) dan jaringan komunikasi instan. Melalui sistem ini, keluarga pasien tidak perlu lagi mendatangi Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) maupun Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mencari darah.
Secara teknis, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) cukup memasukkan data kebutuhan darah ke dalam SIM-RS secara digital. Sistem kemudian otomatis mengirimkan notifikasi kepada tim transporter khusus yang siaga 24 jam. Petugas ini yang akan mengambil sampel darah di ruangan untuk dicocokkan di laboratorium. Jika stok internal kosong, sistem komputer akan otomatis melacak ketersediaan darah di jejaring PMI Bangil, Sidoarjo, hingga Surabaya untuk dijemput oleh petugas.
Terobosan kedua adalah FAST DRUG POS, sebuah sistem pengantaran obat gratis khusus bagi peserta JKN yang bekerja sama dengan PT Pos Indonesia. Layanan ini menjadi solusi agar pasien lanjut usia (geriatri) dan penderita penyakit kronis tidak perlu kelelahan mengantre berjam-jam di bagian farmasi.
Alur layanannya dibuat sangat ringkas. Usai pemeriksaan di poliklinik, dokter akan menginput resep elektronik (E-Resep) ke sistem komputer.
“Pasien cukup mengisi formulir digital atau fisik terkait alamat rumah di loket informasi, setelah itu mereka bisa langsung pulang,” jelas dr. Tri Dinar.
Selanjutnya, apoteker akan meracik obat sesuai E-Resep, lalu dikemas oleh petugas Pos Indonesia di rumah sakit untuk langsung dikirim ke rumah pasien. Keamanan pengiriman pun terjamin berkat adanya fitur pelacakan waktu nyata (real-time tracking) yang terintegrasi dengan sistem ekspedisi, sehingga pasien bisa memantau posisi obat mereka dari rumah.
Penerapan ekosistem digital yang telah diperkuat oleh Keputusan Bupati Pasuruan ini terbukti berhasil mendongkrak Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) di RSUD Bangil. Selain menciptakan efisiensi waktu dan menghemat biaya transportasi warga, integrasi teknologi ini juga efektif mencegah kerusakan sampel medis serta menjaga kebersihan layanan publik dari praktik pungutan liar. (*)
Reporter: Achmad N.
Editor: Kundari PS.
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

