Wagub Emil Dardak Minta KA Jadi Backbone Transportasi Darat

Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak berharap agar transportasi Kereta Api (KA) mampu menjadi tulang punggung (backbone) moda transportasi darat,Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan
Perkeretaapian di Provinsi Jatim untuk Mendukung Aglomerasi Surabaya dan sekitarnya, di Hotel JW
Marriot Surabaya, Kamis (21/2).

Surabaya, suaramedianasional.co.id – Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak berharap agar transportasi Kereta Api (KA) mampu
menjadi tulang punggung (backbone) moda transportasi darat. Harapan itu disampaikan karena dinilai
bahwa transportasi massal tersebut sangat diminati masyarakat umum. Untuk itu perlu dikembangkan baik
jumlahnya maupun jalurnya.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan
Perkeretaapian di Provinsi Jatim untuk Mendukung Aglomerasi Surabaya dan sekitarnya, di Hotel JW
Marriot Surabaya, Kamis (21/2).
Lebih lanjut Emil Dardak mengakui bahwa untuk memenuhi keinginan tersebut membutuhkan
waktu yang cukup lama. Yakni harus melalui perhitungan, perencanaan dan penelitian cukup rumit.
“Tidak hanya itu, tapi juga melibatkan stakeholder atau pihak-pihak yang berkepentingan. Seperti
akademisi, pemerintah, civil society, bahkan para pakar dari luar negeri di bidang intra urban maupun intra
regional railway,” tuturnya.
Walau demikian, sebut Emil Dardak, moda transportasi perkeretaapian sangat diharapkan dan
mampu menjadi backbone transportasi darat. Apalagi, menurutnya, transportasi KA memiliki beberapa
keunggulan, yaitu kapasitas dan daya angkut yang besar, baik untuk angkutan barang maupun penumpang,
“Salah satunya juga tidak berdampak pada persoalan kemacetan, tingkat keamanan tinggi, memiliki
kecepatan tinggi dan tarif relatif murah,” ujarnya.
Meski dinilai sangat rumit, Emil Dardak menyampaikan, bahwa Kementerian Perhubungan RI sudah
melakukan beberapa langkah konkrit untuk meningkatkan daya tampung kereta api di Jawa Timur.
Misalnya membangun dual track untuk jurusan Madiun – Jombang, serta penyediaan lahan untuk relokasi
kereta api menuju Porong.
Namun yang menjadi pertanyaan, Kota Surabaya sebagai kota megapolitan mau dibawa kemana
dalam hal konsep transporasinya. Karena, menurut Emil Dardak, persoalan transporasi sangat berpengaruh
terhadap persoalan perekonomian masyarakat.
“Kita lihat Surabaya situasinya crowded luar biasa, apabila sudah maksimal ditakutkan nantinya
akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonominya. Kalau sudah demikian siapa lagi yang akan mendorong
pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” ungkapnya.
Oleh karena itu, dirinya akan melihat kembali model transporasi di wilayah Gerbangkertosusilo
(Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) melalui rencana tata ruang dan wilayah
(RTRW) yang sudah ditanda tangani oleh seluruh bupati/walikota se Gerbangkertasusila tahun 2107 lalu
untuk segera disahkan.
“Apabila sudah disahkan, maka kita tinggal merencanakan jalur baru kereta api baik untuk kereta
api barang maupun penumpang. Sedangkan untuk konektifitas dan mobilitas jalur tersebut harus melalui
perencanaan dan perhitungan yang tepat,” ungkapnya.
Pengembangan moda KA, menurutnya, tidak boleh mengesampingkan moda massal yang sudah ada.
Termasuk yang harus diperhitungkan adalah aspek pendekatan transportasi secara inter-moda. “Pada
intinya harus ada keterpaduan perencanaan,” urainya.
Dirinya berharap, dengan diadakannya FGD Pengembangan Perkeretaapian di Provinsi Jatim untuk
Mendukung Aglomerasi Surabaya dan sekitarnya ini agar bisa tersusun kesepahaman para pemangku dan
stakeholder. Baik dari akademisi, pemerintah, social society maupun pakar dari luar negeri yang ahli dalam
bidang intra urban maupun intra regional railway.
Sementara itu, Menteri Perhubungan RI, Ir. Budi Karya Sumadi mengatakan, pelaksanaan FGD
tersebut sejalan dengan program pemerintah pusat. Diharapkan dengan diadakannya FGD itu akan
menghasilkan konsep tentang angkutan massal yang dapat dijadikan percontohan oleh daerah lain di
Indonesia. “Intinya pemerintah merencanakan sesuatu yang terbaik untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Tetapi jangan sampai melupakan aspirasi masyarakat. Biarkan masyarakat berbicara,” harapnya.
(*)