Wagub Emil Dardak : Pendidikan Berbasis Pesantren Jawab Tantangan Dunia Kerja

Wakil Gubernur Jawa Timur saat foto bersama Kiyai dan ibu Nyai di Acara Pengajian Haflah Akhirissanah di Pon- Pes Mansya’ul Huda Kab. Banyuwangi

Surabaya, suaramedianasional.co.id – Pendidikan berbasis pesantren sangat diharapkan dapat  menjawab tantangan dunia kerja, dengan syarat diperlukan pemikiran modern yang dimodifikasi dengan kearifan lokal. Selain itu diperlukan juga perhatian dan usaha sungguh-sungguh atau ijtihad dari pemerintah, para kiai, pengasuh serta seluruh stakeholder yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan dunia kerja.

“Salah satu usaha untuk mengaktualisasikannya adalah melalui peluncuran program sekolah tistas (gratis dan berkualitas) dimulai pada tahun 2019, bertujuan akhir untuk menekan angka pengangguran serta meningkatkan IPM di Jawa Timur,” papar Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat menghadiri Reuni Akbar ke 8 dan Harlah Akhirissunah di Pondok Pesantren Natsya’ul Huda Kec. Tegaldlimo, Banyuwangi, Rabu (10/4) malam.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov. Jatim dibawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak tengah meluncurkan 9 program kerja atau Nawa Bhakti Satya melalui Bhakti 3 yakni Jatim Cerdas dan Sehat.

Sementara untuk meningkatkan kualitas lulusan  dan menekan angka pengangguran, Pemprov Jatim telah meningkatkan jumlah SMK dibanding SMA dengan prosentase 70 persen dibanding 30 persen. Dan saat ini telah terealisasi dengan perbandingan 60 persen : 40 persen.

“Dengan harapan lulusan SMK telah mempunyai keahlian sesuai dengan bidang minat dan mampu mengarungi tantangan dunia kerja,” ujarnya.

Selain itu,  Pemprov. Jatim juga mengeluarkan program SMK Pengampu, artinya SMK yang terakreditasi dan mempunyai sarana dan prasarana lengkap (alat praktek dan guru pembimbing) menjadi pengampu bagi SMK yang belum begitu berkualitas dan belum terakreditasi.

Masih menurut Emil, tidak hanya Pemprov. Jatim yang berupaya untuk meningkatkan kualitas lulusan SMA/SMK/sederajad. Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI pun telah mengeluarkan program dengan mengikut sertakan dunia industri, yaitu ikut menyusun program kurikulum sebesar 60 persen.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Emil Dardak juga menyoroti soal rendahnya generasi milenial yang berminat pada dunia wiraswasta.

“Dunia pertanian tidak menarik bagi mereka. Padahal di dalamnya sangat luas apabila dijadikan sebagai lahan kerja, dan masih rendahnya keberanian untuk berusaha,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov. Jatim saat ini tengah membangun minat jiwa wiraswasta bagi generasi milenial.

“Jawa Timur akan fokus membangun jiwa wiraswasta bagi generasi milenial dan yang lebih penting mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” pungkasnya.

Sementara itu, KH. Salahuddin Wahid, Pimpinan Ponpes Tebu Ireng, Jombang mengatakan,  pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren Sidogiri yang telah berdiri sejak 1740. Sedangkan sekolah Belanda berdiri satu abad selanjutnya yaitu 1840.

Dalam perjalanannya, Sekolah Belanda begitu cepat maju hingga berdiri Institute Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajahmada (UGM), Universitas Indonesia (UI), serta Universitas Airlangga (Unair). Sedangkan pesantren jalan di tempat.

Untuk itulah, menurutnya diperlukan perhatian dari pemerintah untuk membantu keberadaan pesantren dengan harapan bisa menggali kemampuan atau potensi yang dimiliki.

Disampaikan pula bahwa pondok pesantren mempunyai potensi besar untuk melakukan kegiatan dan menjawab tantangan dunia kerja. Dengan syarat keluarannya harus jujur, disiplin, pandai bergaul, mencintai apa yang dikerjakan, mempunyai semangat bekerja sama, mampu menjual gagasan, percaya diri,  mempunyai semangat untuk maju serta tidak cepat puas.

“Santri yang baik adalah santri yang dapat menerapkan ilmunya di kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (*)