
PASAMAN, SMNNews.co.id – Zulfikar, seorang Penggiat/Aktivis budaya yang baru saja menerima gelar adat Gala Sako Adat atau Angku Mudo, telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang memiliki kepercayaan besar dari masyarakat. Lahir di Lubuk Sikaping, Sumatera Barat, pada 16 Oktober 1996, Zulfikar kini tinggal di Kampuang Baru, Jorong Ambacang Anggang, Nagari Aia Manggih Selatan, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Zulfikar adalah putra pasangan Yurnasri St. Sati dan Zuaina.
Sejak kecil, Zulfikar sudah menunjukkan ketertarikannya pada seni dan budaya. Ia menceritakan, awal saya tertarik pada budaya dan seni adalah ketika sering dibawa ayah ke resepsi pernikahan, dan melihat atraksi tari persembahan di acara tersebut.
“Saat itu saya masih duduk di kelas 4 SD. Ketika kelas 6 SD, saya mulai belajar Pasambahan dan ilmu adat lainnya dari ayah saya. Setelah itu, saya melanjutkan belajar dengan salah seorang budayawan Minang dan dosen, Bapak Firman Ahmad Katik Bandaro Alam, S.H., M.PHSi,” kata Zulfikar saat berbicara dalam acara Apresiasi Budaya Minang di RRI Pro 4 Jakarta pada Rabu (18/12) kemaren.
Selain kecintaannya terhadap budaya Minang, Zulfikar juga berprestasi di bidang ini. Ia pernah meraih Juara Harapan 1 dalam lomba Pidato Adat tingkat Nasional yang diadakan oleh Universitas Andalas (UNAND), serta Juara 1 Pasambahan tingkat Provinsi Sumatera Barat di Kota Bukittinggi, mewakili Kabupaten Pasaman.
Meskipun Zulfikar kini bekerja sebagai petugas di Nagari Aia Manggih Selatan, Lubuk Sikaping, Sumatera Barat, ia juga aktif mengajar di sekolah dan Nagari setempat, Dan Zulfikar Angku Mudo menguasai Pasambahan dan Seni petatah petitih adat yang merupakan seni sastra Minangkabau Zulfikar menjelaskan bagaimana ia memperoleh gelar adat atau Manjadi mamak rumah tersebut.
“Sebenarnya saya sempat beberapa kali menolak, namun karena kepercayaan orang kampung (urang kampuang) dan seringnya nama saya disebut dalam rapat, akhirnya saya menerima gelar ini. Ini merupakan hasil kesepakatan dari Niniak Mamak dan urang kampuang Suku Tanjung,” ungkapnya.
Orang tua Zulfikar sangat mendukung setiap langkah yang diambilnya, terutama dalam upaya menghidupkan budaya Minangkabau di tengah globalisasi yang semakin pesat. Salah satu kontribusi terbesar Zulfikar adalah menjaga dan mengembangkan tradisi Pasambahan, serta mengajak generasi muda untuk lebih mencintai budaya mereka sendiri.
“Saya selalu berpegang pada petuah yang mengajarkan bahwa kita harus melakukan hal yang tidak dilakukan oleh orang lain. Jika orang lain melakukan apa yang kita lakukan, maka kita tahu siapa yang menciptakan sejarah dan siapa yang meniru karya,” ujar Zulfikar dengan penuh keyakinan.
Sebagai generasi penerus, Zulfikar berharap agar para pemuda tidak bersikap apatis terhadap budaya mereka. Ia mengajak untuk tetap optimis dan berusaha agar budaya Minangkabau tetap hidup di tengah arus modernisasi. (mad)
Temukan Berita Menarik Lainya Disini GOOGLE News !!

